Perkebunan

Coffee Lover: Generasi Penggerak Ekonomi Lewat Secangkir Kopi

Pada medio 2013 sewaktu saya masih menetap di Banyuwangi, sebagai coffee lover harus pergi ke pusat perbelanjaan yang jaraknya bisa mencapai 30 menit.

38

Pada medio 2013 sewaktu saya masih menetap di Banyuwangi, sebagai coffee lover harus pergi ke pusat perbelanjaan yang jaraknya bisa mencapai 30 menit. Selang beberapa waktu mulai banyak bermunculan kedai kopi dengan tampilan modern yang tidak lagi menjual kopi instan kemasan namun biji kopi yang harus digiling dan diseduh dulu secara manual.

Di tahun 2017 sebelum saya memutuskan untuk pindah kota, kedai kopi dengan barista profesional dan tempat yang nyaman untuk minum kopi sudah sangat banyak dijumpai.

Fenomena ini menarik perhatian saya, apakah karena Banyuwangi sedang pesat-pesatnya berpromosi kepariwisataannya? atau memang kopi lokal sedang naik daun?

Di beberapa kota tempat saya menetap berikutnya ternyata saya menjumpai hal yang sama, bahkan hingga kini saya menetap di Jakarta. Nyatanya, kopi lokal memang sedang naik daun dan tentu saja saya ikut senang dan berbangga karenanya.

Gaya Hidup, Secangkir Kopi dan Coffee Lover

Budaya minum kopi yang semakin menjamur di berbagai kalangan memunculkan berbagai peluang ekonomi yang mungkin dulu tidak terbayangkan. Tempat minum kopi yang dulunya hanya warung kopi biasa berdiferensiasi menjadi tempat minum kopi dengan level-level yang berbeda.

Mulai dari kopi lima ribuan hingga seharga ratusan ribu semua ada. Dari merk lokal hingga merk internasional, semua tak pernah sepi peminat. Bahkan, menjadi artisan kopi yaitu mereka yang bergelut usaha di bidang kopi yang hanya menyajikan satu jenis varietas kopi menjadi cukup populer di kalangan pemuda usia produktif dalam dekade ini.

Pergeseran rutinitas minum kopi dari hal biasa menjadi sebuah hal yang terlihat mewah, trendi dan gaul tak luput dari cara-cara pemasaran produsen minuman kopi yang masuk ke Indonesia.

Dengan kesuksesan yang diperoleh produsen besar tersebut katakanlah seperti Starbuck atau Arabica menumbuhkan peluang usaha baru untuk ditiru. Kemudian muncul merk-merk lokal seperti Janji jiwa, Kopi kenangan dan lain sebagainya.

Namun, yang mungkin luput dari pandangan kita adalah Indonesia mempunyai berbagai varietas kopi yang kualitasnya diakui oleh dunia tetapi kita sendiri mungkin belum pernah merasakannya.

Saat wisatawan asing datang ke Indonesia mereka pun banyak yang berkomentar kenapa kopi yang mereka minum di Indonesia bisa berbeda dengan kopi asal Indonesia yang mereka minum di negaranya.

Kopi specialty dan komersil, keduanya sama-sama memiliki penggemarnya sendiri. Keunggulan kopi specialty adalah kita dapat menelusuri asal-usul kopi yang mereka sajikan. Berasal dari daerah mana kopi tersebut, perkebunan spesifik tertentu mana yang telah menghasilkannya dan hal spesifik lain seperti ketinggian tanam, varietas, sampai proses pengolahan kopi tersebut juga bisa diketahui dengan jelas hingga metode pengolahan dan rasa yang harusnya keluar saat proses menyeduh dilakukan.

Sementara untuk kopi komersial, informasi yang didapatkan biasanya terbatas hanya sampai pada benua atau negara penghasilnya saja. Atau, kalau beruntung, kita bisa menemukan keterangan daerah tempat kopi itu ditanam. Informasi tentang daerah pertanian atau bagaimana metode pengolahan kopi biasanya tidak ikut disertakan.

Dengan harga yang cukup mahal kopi specialty ini lebih banyak diusung di luar negeri dari pada di negeri sendiri dan sebaliknya kopi specialty dari luar negeri malah menjadi primadona di berbagai kedai kopi lokal.

Seringkali kopi asli Indonesia dicap terlalu mahal sedangkan dengan harga yang sama kopi yang berasal dari luar negeri dianggap wajar. Pola pikir seperti ini yang kadang menjadikan kopi terbaik Indonesia jarang sekali yang berjaya di negeri sendiri.

Ekonomi Kreatif dan Petani Kopi Indonesia

Perubahan gaya hidup masa kini yang banyak melibatkan kopi dalam aktivitas sehari-hari memberikan dampak yang cukup signifikan dalam perkembangan dunia kopi. Masyarakat lebih banyak tahu tentang berbagai jenis kopi yang dimiliki oleh negeri sendiri. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa tangan para barista lokal yang membawa nama kopi asli Indonesia ke berbagai lomba dan konsisten untuk memasarkannya diberbagai kedai kopi membuat pasar kopi lebih hidup.

Sebagai akibatnya permintaan kopi semakin naik, yang artinya meningkatkan pula peluang bagi para petani kopi untuk meningkatkan produksinya walaupun itu juga harus dibarengi dengan kewajiban dalam menjaga kualitas produk yang menjadi tanggung jawab petani kopi.

Sebenarnya apa yang menjadi perbedaan saat kita membeli kopi pada merk-merk terkenal dan kopi milik kedai kopi lokal. Padahal seringkali harganya justru jauh lebih mahal daripada kedai kopi lokal atau bahkan sebaliknya.

Alur produksi yang dibutuhkan produsen besar untuk menyajikan kopi ke tangan kita membutuhkan jauh lebih banyak pekerja daripada kedai kopi lokal. Pada akhirnya biaya produksi yang dibutuhkan lebih banyak untuk membayar karyawan. Sedangkan kedai kopi lokal membutuhkan biaya tinggi karena bahan baku dan proses pengolahannya yang membutuhkan lebih banyak biaya.

Kadang kala dengan produk yang sama harga yang kita bayarkan di kedai kopi lokal bisa saja lebih mahal. Namun nilainya ekonomisnya bisa saja berbeda karena uang yang kita belanjakan seakan-akan membeli langsung kopi pada petani lokal. Memang hal ini tidak 100% benar. Namun bisa kita sepakati bahwa sebagian besar pemain pada bisnis lokal ini adalah anak muda asli Indonesia.

Di situlah letak perbedaannya. Lewat transaksi yang kita lakukan sejauh itu pulalah harapan dan semangat bisa sampai pada produsen paling awal dalam dunia per-kopi-an ini yaitu petani kopi. Dengan meningkatnya penjualan kedai kopi lokal maka semakin tinggi pula permintaan produksi kopi pada petani.

Kopi lokal tidak hanya memiliki potensi untuk menjadi komoditas unggulan, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif. Hal ini dikarenakan industri kopi dapat menciptakan berbagai lapangan kerja baru, mulai dari petani kopi, pengolah kopi, barista, hingga pengusaha kedai kopi.

Bisa kita bayangkan pertumbuhan ekonomi akan terus bergulir tanpa kita perlu repot-repot berbusa dalam beropini bagaimana cara untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui jalur termudah dan pastinya pula dapat kita terima dengan baik karena sudah lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya sebagai teman bercakap ataupun rapat, secangkir kopi dapat menjadi perantara membangun karakter sebuah bangsa.